Kategori
Uncategorized

Musik Yang Berhasil Memacu Adrenalin

Musik yaitu wahana ekspresi rasa yang sanggup menembus lintas generasi. Pelbagai pesan bisa tersampaikan via sebuah nyanyian, dari urusan romansa, persahabatan, keluarga, profesi, realitas kehidupan sehari-hari, daya pikir, politik, sampai pencarian spiritualitas.

Irama yang tertata via not balok simpel dilengkapi dengan lirik-lirik sarat makna seringkali sukses menyusun harmoni yang meraba relung frekuensi batin pendengarnya.

Kami berkesempatan untuk menonton konser ‘Menyanyi Bergoyang’ di permulaan bulan Februari 2020. Umumnya kami mengaplikasikan peristiwa nonton konser untuk bergalau berjamaah, sehingga penampilan band-band indie berlatar nelangsa ceria seperti Payung Adem, Banda Neira, atau Kunto Aji, senantiasa dinanti-nanti.

Generasi milenial biasanya butuh ruang untuk mengekspresikan rasa sedih, depresi, gelisah, tertekan, sebab latar belakang nuansa didikan keluarga yang menuntut untuk tak boleh banyak mengeluh, sepatutnya kuat, obsesi untuk bergembira sedangkan fana, berpegang kuat pada agama, mencontoh jenjang linier sekolah – kerja – nikah – punya buah hati komplit beserta angsuran KPRnya, sepatutnya berprestasi sebab hidup penuh kompetisi, berikut pengaturan sarat tabu mengenai ini itu. Sehingga, nyanyian-nyanyian yang membongkar keresahan mental menjadi ramai penikmatnya.

Agak sedikit berbeda dengan suasana konser kali ini. Wajah-wajah ranum nan segar mewarnai lapangan tenis indoor GBK hari itu. Lantas kami merasa telah terlalu sepuh untuk menonton konser indie yang murah meriah. Angkatan kami mungkin sekarang lebih memilih nonton konser pekerja seni luar negeri yang dapat menyimak sambil duduk dan angguk-angguk.

Berdasarkan ungkapan sahabat kami, “Kita ini telah terlalu jompo untuk jingkrak-jingkrak, nanti boyokan,” keluhnya. Berkostum tube top ditutupi kemeja tipis paradise, hot pants, fasih dalam mengenakan foundation, pensil alis, eyeliner, blush on dan lipen-an, sunglasses unyu-unyu di atas kepala, sneakers kekinian, dengan tangan kiri ngudud santai meskipun tangan kanan update ig stories menjadi panorama ciamik bagi kami yang gayanya amat old-fashioned ini.

Kami sengaja datang dari permulaan sebab ditampilkan band pembuka Efek Rumah Kaca di stage Bergoyang. Dan besoknya, ada Feast di stage Menyanyi. Telah jam 4 petang tetapi pintu belum dibuka, telat sampai hampir satu jam. Kami membayangkan apabila ini basisnya Slankers dahulu umumnya mereka siap dobrak pintu, namun berbeda dengan adik-adik gen Z ini.

Dalam himpitan antrean yang gerah, ada yang nyeletuk misuh lucu dengan sebutan ‘k****l’ atau ‘a****g’ lalu yang lain balas mengakak. Ada pula yang meluangkan update stories dengan main tiktok atau lanjut ngegame online.

Tercampur padat darah muda lintas gender, namun tidak ada gerak-gerik yang mengambil kans untuk melaksanakan pelecehan. Ada pula yang mengisap rokok, tetapi dikala sadar gerak-gerik kami kurang nyaman, ia seketika respek dengan berapologi, “Kak, maaf ya kak..” sambil menggeser arah asap rokoknya.

Sampai dapat masuk ke lantai festival, tak ada kerusuhan yang terjadi, sebab segala cuma mau datang untuk bernyanyi bergoyang, sedikit jingkrak-jingkrak sambil mimik amer mix max. Kami takjub dengan mentalitas konsisten mau jahil tetapi masih dapat berlaku sopan yang dimiliki adik-adik ini.

Menariknya, konser ini menghadirkan banyak sekali line pekerja seni yang dapat dihadiri generasi X sampai Z, milenial seperti kami menerima profit terbanyak sebab masuk ke dalam era hampir segala pekerja seni / band hal yang demikian. Dikala Reza Artamevia, Rossa, Kahitna, Once Mekel, Project Pop, Didi Kempot main, kami yang sepuh ini dapat seketika sing along, dan sebagian adik-adik gen Z merasakan ritme sambil buka telepon seluler untuk mencari liriknya.

Sebaliknya, dikala Reality Club, Feast, atau Hindia yang main, kami turut bergoyang tanpa hapal segala lirik. Panorama yang paling menyenangkan, sebagian adik-adik ini tak datang sendiri dalam grupnya, ada pula yang datang bersama orang tuanya. Hatinya mau nonton konser sambil pacaran, bapak ibunya juga mau bernostalgia masa kasmaran mudanya. Jadilah nonton konser sekalian piknik keluarga.

Amat disayangkan apabila sebagai generasi yang lebih senior sering kali meremehkan generasi ini dengan klaim mereka apatis dan individualis, atau belum punya pengalaman. Justru sebab terbebas luka rezim masa lalu dan terjebak dalam era disrupsi teknologi, mereka mempunyai privilese untuk mengakses info lebih terbuka, malahan lintas zaman, lintas ruang dan waktu, tanpa sepatutnya mengalami seketika.

Mereka yaitu generasi yang ‘googling things’. Mereka bisa teradvokasi mengenai etika dan budi pekerti lebih dini, sehingga generasi ini cenderung lebih toleran kepada perbedaan. Cuma saja ruang-ruang grounding rekreasi alam lebih-lebih di Jakarta sudah banyak berubah menjadi mall semata, sehingga konser musik menjadi salah satu ruang pertemuan offline untuk mengekspresikan rasa jenuh atas rutinitas dan dunia yang penuh kompetisi.

Kecuali itu, sebab mayoritas terlahir di zaman yang cenderung lebih aman, ketukan drum, petikan gitar, atau teriakan vokalis sengaja dicari-cari sebagai wahana penyaluran naluri chaos, dentuman orgasme, atau hentakan adrenalin yang membuncah.

Sebetulnya ini yaitu pengalaman nonton konser bersama Gen Z kelas menengah Jakarta yang menyenangkan. Jalan mereka ringan sebab terbebas dari stress berat rezim masa lalu, tetapi tantangan mereka ke depan lebih berat sebab ketidakpastian zaman akan membawa perubahan variasi apa lagi.

Karakter santun meski tak serta-merta sepatutnya tunduk metode lama menjadi intrik remaja Jakarta menyalurkan insting liarnya. Generasi ini yaitu generasi yang dilengkapi instrumen survival lebih komplit, sehingga sanggup berdaya upaya logis, kreatif, dan menghargai kebebasan untuk memilih jalannya sendiri.

Kegelisahan yang hadir via konser musik yaitu ungkapan bunyi-bunyi solidaritas yang seringkali terbungkam sebab kekuasaan senioritas. Terang saja, mereka bukan generasi yang apatis kepada keadaan politik cuma sebab mereka tak mengalami sisi suram masa lalu.

Melewati musik lah, solidaritas hadir di ruang-ruang sosial yang lebih kerap bisingnya bertumpu pada koneksi jaringan dunia online. Karenanya dari itu, memahami karakteristik dan keperluan gen Z, merangkulnya, yaitu upaya memeluk masa depan dengan lebih tentram.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *